Mengenal Tradisi Pora dalam Pernikahan Militer: Apa Beda Pedang Pora, Sangkur Pora, dan Hasta Pora?

Upacara-Pedang-Pora-Perwira-TNI

Pernikahan seorang prajurit TNI maupun anggota Polri seringkali diwarnai dengan prosesi yang gagah, khidmat, dan penuh makna. Salah satu tradisi yang paling ikonik adalah saat kedua mempelai berjalan di bawah gapura senjata yang dibentuk oleh rekan-rekan prajurit. Tradisi ini dikenal secara umum dengan sebutan “Pora”, yang merupakan akronim dari “Pura” atau gerbang.

Namun, tidak semua upacara “Pora” itu sama. Terdapat tiga istilah yang sering terdengar, yaitu Pedang Pora, Sangkur Pora, dan Hasta Pora. Meskipun tujuannya serupa—yakni memberikan penghormatan dan mengantarkan rekan prajurit ke gerbang kehidupan baru—ketiganya memiliki perbedaan mendasar yang terletak pada tingkat kepangkatan dan jenis senjata yang digunakan.

Mari kita bedah satu per satu perbedaannya.

1. Pedang Pora

Pedang Pora adalah tradisi pernikahan militer atau kepolisian yang diperuntukkan secara eksklusif bagi para Perwira. Istilah “Pora” sendiri merupakan akronim dari “Pura” yang berarti “Gerbang”. Jadi, Pedang Pora secara harfiah berarti “Gerbang Pedang”.

  • Siapa: Prajurit pria dengan pangkat Perwira Pertama (Letnan Dua) hingga Perwira Tinggi (Jenderal/Laksamana/Marsekal) di lingkungan TNI dan Polri yang menikah untuk pertama kalinya.
  • Bagaimana: Rekan-rekan perwira mempelai pria akan membentuk formasi barisan saling berhadapan dan menghunuskan pedang ke atas, menciptakan sebuah gapura atau gerbang pedang (Gapura Pedang). Kedua mempelai kemudian berjalan melewati gerbang pedang ini.
  • Makna:
    • Gerbang Kehidupan Baru: Melewati gapura pedang melambangkan pasangan suami istri yang siap memasuki bahtera rumah tangga.
    • Solidaritas & Perlindungan: Formasi pedang menunjukkan solidaritas dan kesiapan para rekan perwira untuk melindungi keluarga baru tersebut.
    • Penerimaan Istri: Bagi mempelai wanita, ini adalah simbol penerimaan dirinya ke dalam keluarga besar komunitas istri prajurit (Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Pia Ardhya Garini, atau Bhayangkari).

2. Sangkur Pora

Sangkur Pora adalah upacara yang esensinya sama dengan Pedang Pora, namun diperuntukkan bagi prajurit dari golongan Bintara dan Tamtama.

  • Siapa: Prajurit pria dengan pangkat Sersan Dua hingga Sersan Mayor (Bintara) atau Prajurit Dua hingga Kopral Kepala (Tamtama) yang menikah.
  • Bagaimana: Karena Bintara dan Tamtama tidak membawa pedang sebagai perlengkapan perorangan, mereka menggunakan sangkur (bayonet) yang terpasang pada senapan laras panjang. Formasi yang dibentuk disebut Gapura Sangkur.
  • Makna: Makna dan tujuannya sama persis dengan Pedang Pora, yaitu sebagai bentuk penghormatan, menunjukkan jiwa korsa (semangat kesatuan), dan menyambut kedua mempelai ke dalam kehidupan baru.

3. Hasta Pora

Istilah Hasta Pora memiliki dua pemaknaan yang saling berkaitan dan sering digunakan secara bergantian dengan Sangkur Pora.

  1. Sebagai Prosesi: Secara harfiah, “Hasta” berarti “tangan” atau “lengan”. Dalam konteks ini, Hasta Pora adalah nama dari prosesi atau kegiatan saat kedua mempelai berjalan bergandengan tangan (hasta) melewati gerbang kehormatan (pora), baik itu gerbang pedang maupun gerbang sangkur. Ini melambangkan awal perjalanan hidup baru yang akan mereka tempuh bersama.
  2. Sebagai Nama Upacara: Di beberapa satuan, terutama di lingkungan TNI Angkatan Laut (Korps Marinir), istilah Upacara Hasta Pora lebih umum digunakan sebagai nama resmi untuk tradisi pernikahan Bintara dan Tamtama, menggantikan istilah Sangkur Pora. Meskipun namanya Hasta Pora, alat yang digunakan untuk membentuk gerbang tetaplah sangkur yang terpasang di senapan.

Kesimpulan

  • Pedang Pora: Untuk Perwira, menggunakan Pedang.
  • Sangkur Pora: Untuk Bintara & Tamtama, menggunakan Sangkur.
  • Hasta Pora: Adalah nama prosesi berjalan melewati gerbang, tetapi juga sering digunakan sebagai nama lain dari upacara Sangkur Pora, khususnya di lingkungan TNI AL.

Jadi, jika Anda melihat upacara pernikahan militer menggunakan pedang, itu sudah pasti Pedang Pora. Jika menggunakan senapan dengan sangkur terpasang, itu adalah Sangkur Pora atau bisa juga disebut Hasta Pora.

Pada intinya, ketiga tradisi ini membawa semangat yang sama: sebuah penghormatan sakral, simbol solidaritas korps, dan doa restu bagi prajurit yang akan memulai babak baru dalam kehidupannya sebagai kepala keluarga. Perbedaan nama dan alat hanyalah penyesuaian berdasarkan jenjang kepangkatan dan perlengkapan yang melekat pada diri seorang prajurit.